.
Sesungguhnya, Allah perintah kita agar berlaku adil dan berbuat baik. (lih. QS. An-Nahl: 90)Adil yang dimaksud meliputi adil dalam menunaikan hak Allah dan adil dalam menunaikan hak sesama hamba. Kita tunaikan apa yang Allah wajibkan atas diri kita. Baik kewajiban yang berkenaan dengan harta, jasmani, atau perpaduan dari keduanya.
Begitu juga kewajiban yang berkaitan dengan sesama hamba. Kita tunaikan apa yang menjadi amanah kita kepada sesama hamba dengan seadil-adilnya. Yakni mendudukkan permasalah pada tempatnya, sebagaimana mestinya.
Sedangkan keadilan itu sendiri adalah segala sesuatu yang Allah tetapkan dalam kitab-Nya. Juga yang ditetapkan melalui lisan Rasul-Nya. Yang Allah perintah setiap hamba untuk berjalan di atasnya.
Standar keadilan ada pada Allah Ta'ala. Bukan pada penilain orang banyak, atau kepentingan orang yang punya kuasa.
Ketika keadilan ditegakkan di atas kepentingan orang yang punya kuasa, maka tunggulah datangnya bencana.
Kekuasaan di dunia ada batasnya. Hubungan mesra para kroni hanya bertahan selama masih ada kesamaan kepentingan saja. Ketika semua itu sirna, mereka akan saling tikam satu dengan lainnya.
Di akhirat, mereka akan saling mendakwa. Sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa." (QS. Az-Zukruf: 67)
Teman sepersekongkolan kelak akan mendakwa, "Wahai Rabb, sesungguhnya Si Fulan itu menghalangiku untuk menaati-Mu dan taat pada Rasul-Mu. Dia mengajakku pada keburukan, dan menghalangiku dari kebaikan. Dia katakan bahwa kelak aku tidak akan berjumpa dengan-Mu."
Bisa jadi, di dunia ia tampak mulia dalam pandangan manusia. Tapi, Allah tahu bagaimana hakikat dirinya. Semua akan Allah bongkar pada waktunya....
_______
Bacaan:
Tafsir As-Sa'di, Dar Al-Hadarah, jilid 2, hal. 355
Tafsir Al-Baghawi, Dar Ibn Hazm, hal. 1172
.
.
.
#abunnada
#mawasdiri


