Batman Begins - Horizontal Resize Welcome to the Al Barokah page, hopefully the information published can provide benefits. If there are errors in the delivery of content, the admin will accept all suggestions and criticism via the contact menu

20 November 2021

Salah Menilai



Sungguh begitu besar karunia yang Allah SWT berikan untuk segala ciptaan-Nya. Semua diciptakan dengan penuh keseimbangan dan kesempurnaan, sehingga seharusnya kita sebagai hamba harus membuka mata dan pikiran agar merenungi segala kebesaran-Nya.

Sungguh kita ini hamba yang sering lalai, setiap hari segala karunia-Nya ada depan mata kita namun jarang kita mensyukurinya. Namun begitu besar Rahmat dan Kasih Sayang Allah SWT, kita semua masih diberikan waktu untuk memperbaiki diri.  Seharusnya kita ambil kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, karena sewaktu-waktu Allah mampu mencabut kesempatan tersebut.

Sedihnya, akhir-akhir ini banyak diantara kita yang sibuk menilai orang lain namun lupa atas segala kekurang kita dihadapan Allah SWT. Bukan berarti menilai orang lain itu dilarang, menilai orang lain dengan dasar nafsu dan prasangka itu-lah yang tidak baik. 

Kita harus bersikap hati-hati dan kontrol nafsu kita, ketika dihadapkan dengan orang yang melakukan kesalahan atau menunjukkan kekurangan dirinya. Jangan sampai kita salah menilai dan memvonis orang tersebut. Sungguh ada suri tauladan terbaik yang bisa dijadikan panutan, dalam hal bermualah dan beribadah. Nabi Muhammad SAW sudah mencontohkan banyak tauladan dalam bermuamalah. Semoga kita bisa mencontoh dan menerapkan langsung di kehidapan sehari-hari kita, Aamiin...

23 June 2021

Sakit

Lagi lagi diingatkan oleh Ustd Salim A Fillah, melalui tulisan Karya Buku-Buku Beliau yang telah terbit. Begitu indah dan menenangkan untuk direnungi dan dimaknai. Salah satunya kutipan singkat berikut, dari salah satu Buku Karya Beliau

Sakit adalah bagian dari musibah yang telah Allah ukur kadarnya untuk dihadiahkan pada hamba-hamba terpilih yang mampu menanggungnya

Sakit, sebagaimana tiap ujian, tidaklah menguji kemampuan sebab telah diukur tepat sesuai daya tahan. Ia menguji kemauan memberi makna

Maka dia nan mampu memberi makna terbaik bagi Sakit, kemuliannya akan diangkat untuk membuat malaikat yang selalu sehat itu tertakjub

Sakit itu dzikrullah. Mereka yang menderitanya hampir pasti lebih sering dan syahdu menyebut asma Allah dibanding ketika sehatnya

Sakit itu istighfar. Mereka yang sedang disapanya lebih teringat dosa-dosa yang lama, mengakuinya dan bertobat memohon ampun

-MenyimakKicauMerajutMakna- (Ustd. Salim A. Fillah)

22 June 2021

Instan Tak Perlu Nuanti

Belajarlah dari setiap kejadian dan pandailah menangkap i'tibar bahwa ketika kita bisa bangga merangkai senyum dalam menistakan kehormatan seorang hamba, maka hanya menunggu waktu untuk membayarnya kontan.⁣


Karena Allah yang Maha Adil, tak akan melewatkan kedzaliman, kecuali Allah mengurus pembayarannya kepada yang mendzalimi secara tuntas di dunia dan akan menggenapkannya di akhirat.⁣

Rasullullah bersabda,⁣
“Ada dua pintu (amalan) yang akan disegerakan balasannya di dunia sebelum akhirat yaitu kedzaliman dan durhaka kepada orang tua.” (lihat kitab Shahih Jami hal. 137)⁣

Bertaubatlah dari menodai kehormatan hamba beriman, apapun alasanmu, karena itu adalah hutang dan pembayarannya sangatlah mahal.⁣

Karena sholatmu, sedekahmu dan ngajimu tidak akan melewatkan hutangmu untuk membayar setiap inci kedzaliman.⁣

Siapapun dirimu, ketika kedzaliman menjadi bahasa lisan dan tulisan, maka ia akan terbayar kontan, hari ini, esok, atau lusa.⁣

Abu Bassam Oemar Mita

29 May 2021

Perihal Seni Mencari Ketenangan

 


Apa yang kamu ceritakan pada langit tidak akan pernah tersebar dan menjadi ejekan. Berbeda saat kamu bercerita pada penduduk bumi. Yang ternyata rahasiamu malah tersebar bahkan sampai pada orang yang kamu tidak kenal. Begitu menenangkan apa-apa yang disampaikan dan diutarakan pada langit, sebab rahasiamu akan tersimpan hanya untukmu dan Dia Karena tidak semua yang diceritakan itu harus dibalas dengan jawaban, bahkan seringnya kamu hanya butuh untuk didengarkan saja bukan? Ketahuilah saat kamu bercerita pada langit, ia akan memeluk mimpi dan hatimu, ia akan memberikanmu ketenangan bahkan saat jawaban atas doamu belum datang. Jangan pernah salah mencari sumber ketenangan dan jangan salah juga menaruh doa dan harapan

By. @Jundi Imam Syuhada

07 May 2021

Ukuran

 Entah sadar atau tidak, kita kadang suka menilai orang lain menggunakan standar ukuran diri kita. Misal, kita tahu bahwa i'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan itu amalan utama. Sebab, ada peluang mendapat lailatul qadar di sana. Karena itu, kita rela cuti kerja atau meliburkan usaha demi mengejarnya.


Semangat beribadah yang menggelora, hasrat untuk amar ma'ruf yang luar biasa, membuat kita ingin orang-orang pun beramal seperti kita. Ini dorongan yang mulia. Namun, sedikit saja lengah, ego dan keangkuhan dapat menelikung kita dengan mudahnya.

Saat mendapati kenyataan bahwa orang-orang di sekitar ternyata tak menampakkan gairah ibadah seperti kita, bahkan tampak masih asyik mengejar dunia, kita menyayangkannya. Melintas dalam hati atau lisan kita ungkapan-ungkapan yang bernada merendahkan mereka.

"Mbok jangan terlalu mengejar dunia."

"Dunia teruuus, kapan akhiratnya...?"

Tanpa sadar, kita telah membuat kesimpulan instan. Bahkan, sebenarnya itu sebuah tuduhan. Dengan gegabah menilai mereka "kedonyan"* tanpa pernah menanyakan alasan kenapa tetap bekerja di malam-malam akhir Ramadhan. Ini bisa terjadi karena, sadar atau tidak, kita telah menggunakan keadaan diri sendiri sebagai patokan ukuran.

Bisa jadi pikiran seperti itu muncul karena saat itu kita lupa: i'tikaf itu sunnah, sedang mencari nafkah wajib hukumnya. Bisa jadi mereka yang tetap bekerja pada malam-malam terakhir Ramadhan batinnya nelangsa. Sebenarnya mereka ingin i'tikaf seperti kita. Namun, tangis lapar anak dan istri membuat mereka terpaksa berjibaku dengan urusan dunia.

Selain menahan diri dari lapar dahaga, semoga Ramadhan juga menjadi madrasah bagi kita untuk belajar mengendalikan lisan dan prasangka....

Sumbe: Ig @abun_nada

10 April 2021

Manusia Itu Pelupa

 Manusia memang pelupa. Allah sendiri yang menyatakannya.


"Allah berfirman, 'Demikianlah telah datang padamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya. Maka demikian pula hari ini kamu pun dilupakan.'" (QS. Thaha: 126). Ayat Al-Qur'an semisal ini atau yang semakna dengannya cukup banyak jumlahnya.

Memang banyak sekali yang dilupakan manusia. Ada yang lupa bahwa hakekat dia hanyalah seorang hamba, sehingga berani jumawa menolak bahkan mencela syariat Allah Ta'ala.

Ada yang lupa bahwa dia pernah bersaksi mentauhidkan Allah sebelum dia dilahirkan ke dunia, sehingga merasa tak berdosa saat menyekutukan Allah dengan berhala.

Ada yang lupa bahwa Allah selalu melihat dia dan seluruh perbuatan lahir batinnya, sehingga saat melakukan maksiat merasa aman-aman saja.

Ada yang lupa bahwa Allah perintah malaikat untuk mencatat seluruh perbuatannya yang kelak mesti dipertanggungjawabkan di pengadilan Allah Ta'ala.

Ada yang lupa bahwa ajal bisa datang tiba-tiba. Kapan saja. Di mana saja. Tanpa pernah bertanya apakah sudah siap atau belum menyambutnya.

Karena itulah, Allah kirim Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membacakan ayat-ayat-Nya sebagai pengingat bagi manusia. Sayang, tak semua mau mendengar dan menaatinya. Allah telah ingatkan dan sampaikan petunjuk-Nya. Kelak, manusia tak bisa lagi berdalih "lupa" di hadapan-Nya.

Maka, beruntunglah mereka yang selalu ingat dan waspada....

18 March 2021

Berprasangka Baik Terhadap Takdir

5 Sya'ban 1442 H⁣

25 hari menuju Ramadan⁣

Bagaimana mungkin kita bisa tenang jika yang dikedepankan adalah prasangka buruk pada takdir Allah? Padahal, setiap hari saja rezeki kita selalu ada atas kehendak-Nya.⁣ Dari kita lahir sampai detik ini, Allah itu terus memberikan segala rezeki ke kita. Kita nya saja yang sering tidak mensyukurinya. Kita sering menganggap rezeki itu hanya dalam segi finansial, padahal banyak berbagai macam rezeki yang Allah berikan. 

Kebaikan itu datang dari prasangka baik dan syukur, mengetahui bahwa yang menjadi rezeki kita tidak akan pernah tertukar atau terampas oleh orang lain. Sayangnya, kita saja yang terlalu buta melihat setiap kejadian dengan mengedepankan mata, bukan hati yang selalu berhusnudzon.⁣

Mari perbaiki husnudzon kita pada setiap takdir dan ketentuan Allah. Kita perbaiki ibadah dan syukur kita pada setiap pemberiannya. Sepanjang waktu. Yok bisa yok.⁣

Sumber: IG @petuahjumat

15 March 2021

Allah Yang Berkehendak

Semuanya terjadi karena kehendak dan kuasa Allah SWT, kita tak akan mampu menghindar dari sesuatu yang telah menjadi keputusan-Nya. Namun, bukan berarti berpasrah diri, dengan hanya menunggu takdir tanpa usaha yang maksimal. Kita harus tetap ikhtiar dan tawakal, menjemput takdir yang telah Allah tetapkan. Harus diingat, dalam berproses itu ada aturan, aturan yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, bukan aturan yang dibuat sendiri atas dasar hawa nafsu. 




13 February 2021

Bangkrut



Rajin melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan haji bukan satu-satunya cara untuk mendapatkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Sebaliknya, jika tak dibarengi dengan perbuatan baik kepada sesama manusia, ia justru akan mendapatkan murka Allah.


Ya, berbuat baik dengan ucapan dan perilaku turut menjadi indikator penting meraih ridha Allah dan mendapatkan surga-Nya.


Sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad mengisahkan seorang sahabat yang menyampaikan berita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal seorang wanita yang ahli ibadah tapi suka menyakiti tetangganya.


“Ya Rasulallah, ada seorang wanita yang rajin shalat malam, gemar berpuasa di siang hari, giat melakukan amal kebaikan dan banyak bersedekah. Namun dia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.”


Mendengar hal ini, Rasulullah bersabda, “Tiada kebaikan padanya dan dia termasuk penghuni neraka.”


Mereka lalu berkata, “Sedangkan seorang perempuan lainnya adalah wanita yang mengerjakan shalat fardhu, bersedekah dengan keju kering dan tidak mengganggu seseorang’. Maka Rasulullah menjawab, “Ia penghuni surga”.


Kisah dalam hadits ini mengajarkan kepada setiap muslim untuk berhati-hati dalam berkata-kata dan melakukan sesuatu. Ia harus memiliki tolok ukur, yakni apakah ucapan atau perbuatannya itu akan menyakiti orang lain atau tidak.


Dalam konteks kekinian, tulisan yang diposting di media sosial pun harus diperhatikan baik-baik, apakah tulisan itu dapat menyakiti hati orang lain atau tidak.


Pada hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan indikator penting agar seseorang pantas disebut sebagai seorang muslim.


“Tidak akan masuk ke dalam surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan-kejahatannya,” (HR. Bukhari dan Muslim).


sumber:umma.id

31 January 2021

Renungan Singkat

Allah SWT itu Maha Indah, Indah segala ciptaan-Nya dan segala syariat-Nya. Segala ciptaan-Nya pun sempurna tanpa ada kekurangan seditpun, begitupun syariat-Nya juga sempurna tidak satupun syariat-Nya yang merugikan seorang Hamba. Allah SWT sangat tau sega kebutuhan Hamba-Nya, menetapkan segala takdir Hamba-Nya. Namun terkadang, kita yang sebagai Hamba-Nya lah yang menganggap Allah SWT itu tidak Adil, padahal Allah SWT Maha Adil, cara pandang kitanya saja yang salah. Ketika ujian datang kita sering ngeluh, tidak mengambil sebuah hikmah besar dibalik ujian itu. Allah SWt itu sayang banget sama Hamba-Nya, tidak mungkin memperlakukan suatu hal tanpa ada hikmah dibalik semua itu. Ujian datang, coba manfaatkan, coba renungkan, dijadikan sebagai media agar kita semakin dekat kepada Allah SWT, agar kita semakin banyak mengadu berdoa kepada-Nya. Allah itu seneng banget, kalo kita itu banyak minta pertolongan lewat doa-doa khusu' kita, apalagi dengan ujian menjadikan kita semakin sadar segala dosa-dosa dan pada akhirnya kita sering memperbanyak istighfar dan memohon ampunnan-Nya.

20 January 2021

Analisis Diskriminan Dengan SPSS

Keputusan Tepat

semua manusia pasti punya rencana, tujuan yang bener-bener diperjuangkan. Bahkan, demi mengejar tujuan ada yang sampai mengabaikan aturan yang Allah haramkan. Kita harus sadar, bahwasannya tidak semua yang direncanakan itu berhasil karena Allah lah yang menetapkan. Sikap kita harus legowo, menerima segala ketetapan-Nya. Tidak usah berlebihan, kalau memang tidak sesuai apa yang direncanakan ya sudah, pasti Allah sudah menetapkan keputusan yang tepat. Harusnya tidak usah berlebihan, sampai melanggar aturan-Nya demi mencapai tujuan kita yang sebenernya Allah tidak ridhoi. Kalo memang tujuan kita itu sesuai rencana, jangan lupa berdoa juga, jangan sampai hal itu menjadi sebab menjauh dari-Nya. Bukankah ada orang yg telah berhasil, kemudian malah menjauh dari-Nya???