Entah sadar atau tidak, kita kadang suka menilai orang lain menggunakan standar ukuran diri kita. Misal, kita tahu bahwa i'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan itu amalan utama. Sebab, ada peluang mendapat lailatul qadar di sana. Karena itu, kita rela cuti kerja atau meliburkan usaha demi mengejarnya.
Semangat beribadah yang menggelora, hasrat untuk amar ma'ruf yang luar biasa, membuat kita ingin orang-orang pun beramal seperti kita. Ini dorongan yang mulia. Namun, sedikit saja lengah, ego dan keangkuhan dapat menelikung kita dengan mudahnya.
Saat mendapati kenyataan bahwa orang-orang di sekitar ternyata tak menampakkan gairah ibadah seperti kita, bahkan tampak masih asyik mengejar dunia, kita menyayangkannya. Melintas dalam hati atau lisan kita ungkapan-ungkapan yang bernada merendahkan mereka.
"Mbok jangan terlalu mengejar dunia."
"Dunia teruuus, kapan akhiratnya...?"
Tanpa sadar, kita telah membuat kesimpulan instan. Bahkan, sebenarnya itu sebuah tuduhan. Dengan gegabah menilai mereka "kedonyan"* tanpa pernah menanyakan alasan kenapa tetap bekerja di malam-malam akhir Ramadhan. Ini bisa terjadi karena, sadar atau tidak, kita telah menggunakan keadaan diri sendiri sebagai patokan ukuran.
Bisa jadi pikiran seperti itu muncul karena saat itu kita lupa: i'tikaf itu sunnah, sedang mencari nafkah wajib hukumnya. Bisa jadi mereka yang tetap bekerja pada malam-malam terakhir Ramadhan batinnya nelangsa. Sebenarnya mereka ingin i'tikaf seperti kita. Namun, tangis lapar anak dan istri membuat mereka terpaksa berjibaku dengan urusan dunia.
Selain menahan diri dari lapar dahaga, semoga Ramadhan juga menjadi madrasah bagi kita untuk belajar mengendalikan lisan dan prasangka....
Sumbe: Ig @abun_nada
No comments:
Post a Comment